Rupiah Tembus Rp18.000, Pemerintah Nilai Masih Sesuai Simulasi
Rupiah tembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi salah satu level yang paling banyak diperhatikan pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan nilai tukar tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor cenderung memilih aset safe haven.
Meski begitu, pemerintah menilai kondisi tersebut belum menjadi alasan untuk khawatir. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut rata-rata kurs rupiah secara year-to-date masih berada di kisaran Rp17.057 per dolar AS. Hingga saat ini pelemahan yang terjadi masih dalam batas yang telah diperhitungkan. Optimisme tersebut juga sejalan dengan target rupiah Rp15.000 yang pernah disampaikan pemerintah berdasarkan proyeksi ekonomi pada saat itu.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah masih melihat pelemahan rupiah sebagai bagian dari dinamika pasar yang dapat diantisipasi, bukan kondisi yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Pelemahan Rupiah Masih Dalam Perhitungan Pemerintah
Purbaya juga menegaskan bahwa pemerintah telah memiliki berbagai skenario menghadapi fluktuasi nilai tukar. Termasuk jika rupiah berada di level yang lebih lemah dari asumsi dalam APBN 2026.
“Masih dalam range perhitungan kami,” kata Purbaya saat menanggapi pergerakan rupiah.
Menurutnya, berbagai komponen fiskal, mulai dari belanja negara hingga kewajiban yang berkaitan dengan mata uang asing. Hal tersebut telah dipertimbangkan kemungkinan terjadinya volatilitas kurs sehingga tidak memerlukan penyesuaian kebijakan secara mendadak.
Sentimen Pasar Dinilai Jadi Faktor Pendorong
Selain dipengaruhi kondisi global, pemerintah menilai pelemahan rupiah juga dipicu oleh sentimen yang berkembang di pasar keuangan. Purbaya membantah adanya spekulasi bahwa pemerintah telah meminta perbankan melakukan stress test khusus terkait rupiah di level Rp18.000 per dolar AS.
“Tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi rumor di pasar. Tidak ada instruksi khusus terkait stress test bank pada level tersebut,” ungkapnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa pemerintah masih memandang fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang relatif kuat meskipun nilai tukar mengalami tekanan.
Pelaku Pasar Terus Mencermati Arah Rupiah
Meski pemerintah menyampaikan optimisme, pergerakan rupiah tembus Rp18.000 tetap menjadi perhatian pelaku usaha dan investor karena berpotensi memengaruhi biaya impor, inflasi, serta kinerja perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.
Ke depan, arah rupiah diperkirakan masih dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga global, arus modal asing, serta perkembangan ekonomi internasional. Namun, dengan pemerintah yang menilai kondisi saat ini masih sesuai simulasi. Pasar diharapkan memperoleh kepastian bahwa stabilitas fiskal tetap menjadi fokus utama di tengah volatilitas nilai tukar.
Baca juga : Purbaya: Pajak Ditargetkan Tumbuh 30% di 2026



