tarif pajak progresif

Tarif Pajak Progresif PPh 21 Terbaru 2026

👁️ Memuat view...

Tarif Pajak Progresif PPh 21 Terbaru 2026

Dalam sistem Pajak Penghasilan (PPh 21), tarif pajak progresif merupakan mekanisme utama yang digunakan untuk menghitung besarnya pajak orang pribadi. Disebut progresif karena tarif pajak akan meningkat seiring naiknya penghasilan kena pajak (PKP).

Artinya, semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin besar porsi pajak yang dikenakan pada lapisan penghasilan tersebut. Sistem ini membuat perhitungan pajak lebih adil karena tidak menggunakan satu tarif tetap untuk seluruh penghasilan.

Cara Kerja Tarif Pajak Progresif dalam PPh 21

Dalam praktiknya, tarif pajak ini tidak diterapkan secara langsung pada total PKP, melainkan dibagi ke dalam beberapa lapisan penghasilan.

Setiap lapisan memiliki tarif yang berbeda, dan pajak dihitung secara bertahap dari lapisan terendah hingga tertinggi. Dengan kata lain, hanya bagian penghasilan yang masuk dalam suatu lapisan yang dikenakan tarif tersebut.

Sebelum masuk ke tahap ini, PKP sendiri diperoleh setelah penghasilan neto dikurangi dengan komponen seperti PTKP. Jika ingin memahami dasar pengurangannya, hal ini berkaitan dengan konsep besaran PTKP yang menjadi faktor penting dalam menentukan besarnya PKP seseorang.

Lapisan Tarif Pajak Progresif PPh 21

Berikut struktur yang berlaku saat ini:

  • Penghasilan sampai Rp60 juta: 5%
  • Penghasilan di atas Rp60 juta sampai Rp250 juta: 15%
  • Penghasilan di atas Rp250 juta sampai Rp500 juta: 25%
  • Penghasilan di atas Rp500 juta sampai Rp5 miliar: 30%
  • Penghasilan di atas Rp5 miliar: 35%

Setiap lapisan hanya dikenakan pada bagian penghasilan yang berada dalam rentang tersebut, bukan pada total PKP secara keseluruhan.

Cara Membaca Sistem Lapisan Pajak

Untuk memahami tarif pajak progresif, penting melihat bahwa sistem ini bekerja seperti “bertahap”, bukan “langsung loncat ke satu tarif”.

Misalnya, ketika PKP seseorang sudah melewati batas Rp60 juta, maka hanya kelebihan di atas angka tersebut yang masuk ke lapisan berikutnya. Begitu juga saat melewati Rp250 juta, hanya selisihnya saja yang masuk ke tarif lebih tinggi.

Dengan cara ini, pajak tetap proporsional dan tidak memberatkan seluruh penghasilan secara sekaligus.

Contoh Perhitungan Tarif Pajak Progresif

Sebagai ilustrasi, seorang wajib pajak memiliki PKP sebesar Rp310.000.000 per tahun.

Dalam sistem tarif pajak ini, perhitungannya dibagi sebagai berikut:

  • Lapisan 1: Rp60.000.000 pertama × 5% = Rp3.000.000
  • Lapisan 2: Rp190.000.000 berikutnya (60–250 juta) × 15% = Rp28.500.000
  • Lapisan 3: Rp60.000.000 sisanya (250–310 juta) × 25% = Rp15.000.000

Total pajak terutang adalah:
Rp3.000.000 + Rp28.500.000 + Rp15.000.000 = Rp46.500.000 per tahun

Dari contoh ini terlihat bahwa tarif pajak diatas tidak menggunakan satu angka tetap, tetapi akumulasi dari beberapa lapisan pajak.

Kenapa Sistem Tarif Digunakan

Sistem tarif pajak ini diterapkan untuk menjaga keseimbangan beban pajak antar wajib pajak. Dengan sistem ini, individu dengan penghasilan lebih tinggi akan berkontribusi lebih besar, namun tetap secara bertahap sesuai lapisan penghasilan.

Pendekatan ini juga membuat perhitungan pajak lebih fleksibel dan mencerminkan kemampuan ekonomi masing-masing wajib pajak.

Pemahaman mengenai tarif pajak progresif sangat penting, terutama bagi karyawan, HR, maupun pelaku usaha yang berkaitan dengan penghitungan PPh 21. Dengan memahami cara kerja lapisan pajak ini, proses perhitungan pajak penghasilan menjadi lebih transparan, akurat, dan tidak membingungkan dalam praktiknya.

Baca juga : Cara Hitung PPh 21: Panduan Lengkap dan Contoh Perhitungan Gaji Terbaru

Posted in News.